ANALISA KAPASITAS OPTIMAL LAPANGAN PENUMPUKAN PETIKEMAS PELABUHAN INDONESIA IV (PT. PELINDO IV) (KASUS SEPULUH PELABUHAN STRATEGIS)
Main Authors: | Misliah, Syamsul Asri, Wahyuddin, A.Chairunnisa M |
---|---|
Format: | Article |
Bahasa: | eng |
Terbitan: |
LPPM
, 2015
|
Subjects: | |
Online Access: |
http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/12470 |
Daftar Isi:
- Wilayah kerja PT (Persero) Pelindo IV meliputi sepuluh provinsi atau hampir seluruh wilayah Indonesia bagian Timur dengan luas wilayah 865,284 km2 atau 45,76 % dari total luas wilayah Indonesia. Laju pertumbuhan petikemas yang ditangani PT (Persero) Pelindo IV selama 1997-2002 mengalami pertumbuhan rata-rata 17,65 % pertahun. Peralihan bentuk kemasan general cargo menjadi petikemas cukup drastis, general cargo mengalami penurunan dari 42,36 % tahun 1991 menjadi 8,18 % tahun 2002, sedang peti kemas dari 8,98 % tahun 1991 menjadi 40,03 % tahun 2002. Masalah yang dihadapi kondisi prasarana dan tingkat pelayanan pelabuhan rendah. Penelitian bertujuan menganalisis kapasitas lapangan penumpukan petikemas yang dibutuhkan sampai tahun 2023 dan menentukan konsep pengembangan pelabuhan di PT Pelindo IV. Penelitian mengambil sampel sepuluh pelabuhan strategis yang ada di Kawasan Timur Indonesia. Metode korelasi dan regresi serta metode tingkat pertumbuhan digunakan untuk menentukan jumlah petikemas yang akan menggunakan lapangan penumpukan, metode optimasi untuk menentukan tingkat pemanfaatan lapangan penumpukan optimal, dan kapasitas lapangan penumpukan peti kemas akan dianalisis dengan formula kinerja operasional pelabuhan, serta bentuk pengembangan lapangan penumpukan mempertimbangkan lahan yang tersedia. Hasil penelitian menunjukkan arus petikemas pelabuhan kajian mengalami peningkatan, dengan rata-rata pertumbuhan arus petikemas sebesar 15,61%. Kapasitas lapangan penumpukan petikemas juga meningkat dengan rata-rata 704.148,52 Teus/Tahun. Tingkat pemanfaatan lapangan penumpukan optimal (YOR Optimal) rata-rata sebesar 85,32%. Konsep pengembangan lapangan penumpukan untuk jangka pendek (2018) dengan mengurangi waktu transit dan menggunakan angkutan langsung, sedang untuk jangka panjang (2023) dengan memperluas lapangan penumpukan dan membangun lapangan penumpukan baru.