JEJAK KOMUNITAS TIONGHOA DAN PERKEMBANGAN KOTA BANDUNG
Main Author: | Kustedja, Sugiri; Program Pascasarjana, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan. Bandung. |
---|---|
Format: | Article info application/pdf eJournal |
Bahasa: | eng |
Terbitan: |
Fakultas Seni Rupa dan Desain
, 2012
|
Subjects: | |
Online Access: |
http://journals.itb.ac.id/index.php/sostek/article/view/1095 http://journals.itb.ac.id/index.php/sostek/article/view/1095/701 |
Daftar Isi:
- Hubungan Tiongkok dan Nusantara banyak tercatat pada naskah kuno Tiongkok. Warga Tionghoa beremigrasi ke Indonesia terutama karena alasan ekonomi di samping situasi domestik Tiongkok yang kacau. Mereka menumpang perahu niaga junk yang rutin berlayar antara pesisir Tiongkok Selatan dan Batavia. Ketika VOC membangun Batavia untuk pijakan awal di Pulau Jawa, para pendatang Tionghoa diperlukan kemampuannya membangun dan menghidupkan Batavia untuk menggerakkan roda perekonomian. Ketika imigran swakarsa Tionghoa membanjir tanpa terkendali, VOC menjadi gamang dan permukimannnya dipisahkan dikelompokkan berdasarkan etnis. Kelompok Tionghoa diatur oleh wijkenstelsel sehingga terbentuk ghetto chineesenwijk serta diawasi pergerakkannya dengan passenstelsel. Tujuannya untuk memudahkan pengawasan sambil tetap memanfaatkan kemampuan perdagangan perantara dan jaringan distribusi ke pedalaman. Etnis Tionghoa menjadi terisolasi dari masyarakat setempat dan dijadikan alat pemerintahan kolonial, tanpa harus menanggung biaya organik pemerintahan kolonial. Pada kawasan urban terjadilah pecinan yang intens bercorak budaya dan arsitektur khusus, berbeda dari kawasan lainnya. Pada kasus kota Bandung; awal daerah pecinan (yang tidak tegas batasannya) terbentuk di pusat kota di sekeliling stasiun kereta api, Pasar Baru, jalan raya utama (Groote Postweg dan Pasar Baroeweg). Mereka menyebar mengikuti perkembangan kota. Secara historis pecinan Bandung hanya mengalami pengaturan kolonial pada akhir abad 19 dan awal abad 20 setelah kawasan Priangan dinyatakan terbuka bagi imigran. Kata kunci : pecinan, wijkstelsel, passenstelsel, etnis Tionghoa. Referring to Chinese historical notes, plenty information mentioning ocean voyages between China and Southeast Asia. Migrations occurs related with domestic problems; hungers and wars. Leaving southern China coastal area by commercial junks. When VOC set up Batavia as their first beach head on Java island, Chinese sojourners are the driving force in construction and economic activity. The favourable conditions brought waves of uncontrollable Chinese migrants to Java. Worried Dutch colonial declared ethnic segregation living areas( wijkenstelsel) creating Chinese ghetthoes in every major Java island cities. Ruled travel permits requirement (passenstelsel) to control the inhabitant activities. VOC utilized Chinese networks for inland distribution while isolated them from local people, exploited as colonial tools without any expenses from governmental budget. Those ghettoes leaving at specific urban area with intense cultural color and architectural style, differed with other area. The case of Bandung city, no clear boundry showing Chinese ghetto (pecinan), Chinese dwelling just following the city growth. They settled around train stations, New(major) market, and main streets. Historically Bandung’s Chinese settlement just short period under strict colonial regulation; the end of 19th and early 20th centuries. Only after Priangan recidency was declared free for foreigner to move in. Keywords : Chinese ghettoes (pecinan), wijkstelsel, traveling permit (passenstelsel), immigrant.