Tuturan direktif guru dalam kegiatan pembelajaran berdasarkan perspektif gender / Moch. Arif Bina Mandra

Main Author: Mandra, Moch. Arif Bina
Other Authors: 1. Wahyudi Siswanto ; 2. Taufik Dermawan
Format: PeerReviewed
Bahasa: ind
Terbitan: Universitas Negeri Malang. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia , 2018
Subjects:
Online Access: http://mulok.library.um.ac.id/oaipmh/../home.php?s_data=Skripsi&s_field=0&mod=b&cat=3&id=86434
Daftar Isi:
  • RINGKASANMandra, Moch Arif Bina. 2017. Tuturan Direktif Guru dalam KegiatanPembelajaran Berdasarkan Perspektif Gender. Tesis. Program StudiPendidikan Bahasa Indonesia. Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.Pembimbing : (1) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd., (2) Dr. TaufikDermawan, M.Hum.Kata Kunci : tuturan direktif, tuturan guru SMP, perspektif genderKegiatan pembelajaran merupakan realisasi dari proses terjadinya interaksiguru dengan siswa. Interaksi yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran tidak lepasdari peran tindak tutur. Tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yangdituturkan oleh penutur kepada mitra tutur yang dimaksudkan agar keinginantersebut dilakukan atau dikerjakan oleh mitra tutur. Tuturan direktif berupaperintah, ajakan, suruhan, permintaan, dorongan, larangan, arahan, nasihat, sarandan lain sebagainya. Guru dalam mengajar pasti tidak lepas dari penggunaantuturan direktif seperti menyuruh siswa untuk diam, meminta siswa memerhatikanpelajaran, dan lain sebagainya. Penelitian ini berfokus pada penggunaan tuturandirektif guru dalam memerintah, meminta, dan memberi saran sesuai dengan yangdikemukakan oleh Kreidler. Adapun fokus penelitian dianalisis berdasarkanwujud, fungsi, dan strategi tuturan direktif guru. Perbedaan tuturan guru laki-lakidan perempuan juga menjadi sorotan untuk memahami perspektif gender.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitianetnografi kelas. Pendekatan kualitatif berupaya mendeskripsikan berbagai macamtuturan guru yang terjadi di kelas. Etnografi kelas merupakan desain kualitatif dimana peneliti menggambarkan dan mengimplementasikan pola, nilai, perilaku,tindakan, dan bahasa yang ada di dalam kelas pada saat kegiatan belajar mengajarberlangsung. Dalam hal ini penelitian mengungkap adanya penggunaan tindaktutur direktif dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Penelitian dilakukan diSMP Ahmad Yani Batu dengan sumber data berupa tuturan guru laki-laki danguru perempuan serta konteks yang menyertainya. Teknik pengumpulan datamenggunakan teknik perekaman dan bersifat tersembunyi sehingga dihasilkandata yang benar-benar alami.Dari hasil analisis ditemukan 72 tuturan direktif guru dalam memerintah,meminta, dan memberi saran berdasarkan wujud, fungsi, dan srtategi tindak tuturdirektif. Terdiri dari 19 wujud tuturan direktif, 21 fungsi tuturan direktif, dan 32strategi tuturan direktif. Wujud tuturan direktif terdiri dari 8 tuturan perintah, 5tuturan permintaan, 6 tuturan saran; Fungsi tuturan direktif terdiri dari 7 tuturanperintah, 8 tuturan permintaan, 8 tuturan saran; strategi tuturan direktif terdiri dari8 tuturan langsung dalam memerintah, 5 tuturan langsung dalam meminta, 4tuturan langsung dalam memberi saran, 4 tuturan tidak langsung dalammemerintah, 7 tuturan tidak langsung dalam meminta, 4 tuturan tidak langsungdalam memberi saran.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan direktif guru laki-laki danperempuan memiliki perbedaan dan persamaan serta ciri khas tersendiri dilihatdari struktur bahasa dan perbedaan sosial guru. Berdasarkan struktur pengunaanbahasa guru laki-laki lebih sering bertutur dengan menggunakan ujaran berupakata dibandingkan frasa, klausa kalimat dan makna tuturan. Guru laki-laki dalambertutur lebih melihat pada konteks tuturan dan sedikit memberi masukan, arahan,dan nasihat kepada siswa. Dalam berinteraksi guru laki-laki lebih sedikitmenggunakan bahasa atau tuturan dan tidak banyak berbicara. Berdasarkanstruktur penggunaan bahasa guru perempuan lebih sering bertutur denganmenggunakan ujaran berupa kata dan kalimat yang bermakna. Guru perempuanlebih peka dalam bertutur dan sering memberikan masukan, nasihat, dan ajakandalam membangun interaksi.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa guru perempuan lebihsering berbicara dan membagun interaksi. Guru perempuan dapatmengembangkan tuturan yang lebih luas dan bertutur dengan megekspresikan diriserta dapat memberikan arahan, nasihat yang membangun. Berbeda dengan gurulaki-laki yang bertutur dengan bergantung pada situasi dan kondisi pada saatkegitan pembelajaran berlangsung. Perbedaan tuturan guru laki-laki danperempuan tidak hanya sebatas perbedaan secara kodrati, namun juga perbedaankontruksi sosial, budaya, dan peran sosial.