Pengendalian Gulma pada Tanaman Teh Menggunakan Herbisida Tunggal dan Campuran
Main Author: | Abdillah, Alif Galih Syahrul |
---|---|
Format: | Thesis NonPeerReviewed |
Terbitan: |
, 2019
|
Subjects: | |
Online Access: |
http://repository.ub.ac.id/173708/ |
Daftar Isi:
- Tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O Kuntze) berasal dari Asia Tenggara. Teh ialah tanaman perkebunan yang dimanfaatkan daunnya. Daun teh digunakan sebagai bahan baku produk olahan minuman. Tanaman teh merupakan salah satu produk ekspor non migas yang sangat penting sebagai penghasil devisa negara dalam perekonomian Nasional. Teh menempati urutan kelima sebagai sumber devisa dari subsektor perkebunan setelah kelapa sawit, karet, kopi dan kakao. Kehadiran komoditas teh di Indonesia sangat menguntungkan dengan pasar luar negeri dan pasar dalam negeri. Hal ini ditunjang dengan perkebunan teh di Indonesia yang cukup luas dan jumlah produksi teh yang besar. Hambatan yang dihadapi dalam budidaya teh salah satunya adalah munculnya gulma yang dapat menimbulkan kompetisi.Metode pengendalian gulma yang paling banyak digunakan ialah metode kimiawi dengan herbisida. Metode ini dianggap lebih praktis dan menguntungkan dibandingkan dengan metode yang lain, terutama ditinjau dari segi kebutuhan tenaga kerja yang lebih sedikit dan pelaksanaan yang relatif lebih singkat. Penggunaan herbisida campuran dapat memperluas spektrum pengendalian dan juga mengurangi adanya resistensi gulma terhadap datu jenis herbisida.Herbisida mempunyai kemampuan untuk dapat membunuh meskipun dalam konsentrasi rendah.Amonium glufosinat adalah herbisida yang bersifat non selektif artinya herbisida ini akan mematikan semua jenis gulma tanpa mengenal jenis kelompok gulmanya sehingga dapat digunakan dalam kondisi gulma apa saja. Metil metsulfurontermasuk golongan herbisida sulfonylurea, efektif terhadap gulma berdaun lebar, semak dan pakis. Dosis herbisida tersebut relatif rendah dibanding dengan jenis herbisida lain. Metil metsulfuron diabsorbsi melalui daun dan akar, ditranslokasikan secara acropetal dan basipetal. Penelitian dilaksanakan di kebun Teh Bantaran PT Perkebunan Nusantara XII Bantaran, Blitar. Ketinggian lokasi berada pada 905 meter diatas permukaan laut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan September 2018. Bahan-bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah herbisida Amonium Glufosinat (BASTA 150 SL), Metil Metsulfuron 24% (ALLY 20 WG), air dan gulma tanaman teh. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat semprot punggung (knapsack sprayer SOLO), tali plastik, gelas ukur, pasak, cangkul dan timbangan elektrik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah: P1 : Tanpa Pengendalian, P2 : Amonium Glufosinat 225 g ha-1, P3 : Amonium Glufosinat 300 g ha-1, P4 : Metil Metsulfuron 20 g ha-1, P5 : Metil Metsulfuron 40 g ha-1, P6 : Amonium Glufosinat 175 g ha-1 + Metil Metsulfuron 20 g ha-1, P7 : Amonium Glufosinat 200 g ha-1 + Metil Metsulfuron 30 g ha-1. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam(uji F) dengan taraf 5 %. Apabila berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ) dengan taraf 5%. Dari hasil pengamatan mortalitas menunjukkan bahwa aplikasi herbisida Amonium Glufosinat + Metil Metsulfuron dengan dosis 200 + 30 g ha-1 (P7) dan dosis 175 + 20 g ha-1(P6) menunjukkan tingkat kematian paling tinggi pada semua spesies gulma. Penggunaan herbisida secara campuran menunjukkan hasil yang berbeda nyata dibandingkan penggunaan herbisida tunggalpada beberapa jenis gulma berdaun lebar. Hasil pengamatan berat kering pada masing-masing spesies gulma menunjukkan bahwa aplikasi herbisida Amonium Glufosinat + Metil Metsulfuron dosis 200 + 30 g ha-1 (P7) menunjukkan hasil yang tidak dibandingkan perlakuan herbisida lainnya dan berbeda nyata pada perlakuan kontrol. Bobot kering berbanding terbalik dengan efisiensi penekanan (WCE) dimana semakin rendah berat kering maka semakin tinggi penekanannya. Pada pengamatan fitotoksisitas pada tanaman teh mulai dari 14 sampai 56 HSA tidak menunjukkan adanya tanda keracunan, hal ini menunjukkan bahwa aplikasi herbisida yang sesuai dosis rekomendasi tidak menimbulkan dampak negatif pada tanaman budidaya.