Unveiling President Joko Widodo’s Perspectives About Death Punishment Issue On Drug Smuggling In Indonesia
Main Author: | Wiracandy, Avia Torina |
---|---|
Format: | Thesis NonPeerReviewed |
Terbitan: |
, 2018
|
Subjects: | |
Online Access: |
http://repository.ub.ac.id/166886/ |
Daftar Isi:
- Politikus sering menggunakan wacana politik untuk mempengaruhi masyarakat. Sebagaimana wacana politik memunculkan perspektif politikus itu sendiri, studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi perspektif Presiden Joko Widodo dalam isu hukuman mati pada penyelundup narkoba. Obyek studi ini adalah video wawancara Presiden Joko Widodo dengan Al-Jazeera. Pilihan kata Presiden Joko Widodo dalam modalitas diharapkan dapat mengungkap perspektif presiden terhadap isu yang diangkat. Terdapat dua masalah penelitian untuk dijawab: (1) Apa saja tipe modalitas yang digunakan oleh Presiden Joko Widodo dalam wawancara dengan Al-Jazeera, (2) Apa perspektif dari Presiden Joko Widodo yang berhubungan dengan hukuman mati di Indonesia yang terlihat dari penggunaan modalitas dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena data berhubungan dengan kata-kata, penjelasan dan deskripsi makna, dan tidak berkaitan dengan hubungan sebab-akibat. Studi deskriptif analisis teks dan kognisi sosial juga digunakan untuk mengidentifikasi tipe modalitas dan perspektif Presiden Joko Widodo. Hasil analisis menunjukkan terdapat tiga tipe modalitas yang digunakan dalam kalimat Presiden Joko Widodo. Tiga tipe modalitas terdiri dari 12 kata modal epistemik, 6 kata modal deontik, dan 11 kata modal boulemaeic. Kata-kata tersebut adalah ekspresi harapan, kemungkinan, pengetahuan, tugas, kewajiban, dan keinginan Presiden Joko Widodo terhadap keputusan hukuman mati. Saya mengidentifikasi tiga perspektif dari Presiden Joko Widodo: positif; kukuh melaksanakan hukuman mati dan didukung undang-undang, melawan dunia bagi rakyat; bertahan dengan tekanan internasional yang berlawanan dengan hukum, dan negatif sebagai individu; menolak menunjukkan perasaan dan menegaskan pelaksanaan hukuman mati. Saya juga menganalisa perspektif Al-Jazeera sebagai representasi dunia dan komentar video sebagai representasi masyarakat. Masyarakat setuju dan mendukung presiden melaksanakan hukuman mati, kecuali Al-Jazeera. Presiden Joko Widodo juga teguh dengan undang-undang pelaksanaan hukuman mati, sebagai apa yang ia yakini sebagai keputusan terbaik bagi rakyat dan negaranya. Saya menyarankan peneliti selanjutnya menggunakan teori Teun A. van Dijk dengan obyek berbeda seperti pidato atau berita, atau menggunakan obyek yang sama dengan teori yang berbeda seperti Norman Fairclough atau Ruth Wodak untuk pemahaman yang lebih luas mengenai analisa wacana kritis.