Pengaruh Tingkat Defoliasi pada Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Ubi Jalar (Ipomea batatas L.)
Main Author: | JayantiN, Afinta |
---|---|
Format: | Thesis NonPeerReviewed Book |
Bahasa: | eng |
Terbitan: |
, 2015
|
Subjects: | |
Online Access: |
http://repository.ub.ac.id/130098/2/BAB_I.pdf http://repository.ub.ac.id/130098/3/BAB_II.pdf http://repository.ub.ac.id/130098/1/BAB_III.pdf http://repository.ub.ac.id/130098/1/BAB_IV.pdf http://repository.ub.ac.id/130098/3/BAB_V.pdf http://repository.ub.ac.id/130098/ |
Daftar Isi:
- Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan salah satu tanaman palawija yang banyak terdapat di Indonesia. Hampir seluruh produksi ubi jalar nasional digunakan sebagai bahan pangan. Komoditas ubi jalar sangat layak dipertimbangkan dalam menunjang program diversifikasi pangan yang berbasis tepung karena memiliki kandungan nutrisi yang baik, umur tanam yang relatif pendek, produksi yang tinggi. Selain itu, ubi jalar juga merupakan salah satu komoditas lokal sumber serat pangan (dietary fiber). Ubi jalar memilki sifat fungsional lainnya bagi tubuh karena mengandung pigmen antosianin. Peningkatan produktivitas tanaman ubi jalar dapat dilakukan dengan cara memperbaiki sistem budidaya dan varietasnya. Defoliasi adalah pengambilan sebagian atau seluruh bagian tanaman yang terdapat diatas permukaan tanah dengan alat, manusia atau ternak. Jumlah sulur yang dibuang dalam awal pertumbuhan ubi jalar disebut jumlah defoliasi. Pengaturan jumlah defoliasi sangat penting dalam peningkatan produksi ubi jalar karena jumlah defoliasi sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan daun sehingga mempengaruhi produktivitas ubi jalar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah defoliasi batang pada tiga varietas ubi jalar terhadap pertumbuhan dan produktivitas ubi jalar serta menentukan jumlah defoliasi yang tepat pada setiap varietas ubi jalar. Penelitian dilaksanakan di kebun Republik Telo (Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu) di Jl. Raya Purwodadi no 1 Desa Simping Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Alat yang digunakan antara lain LAM, timbangan analitik, pengaris, meteran, cangkul, gunting, tugal, dan Light Meter. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit ubi jalar dan pupuk organik. Penelitian menggunakan percobaan faktorial dengan dasar Rancangan Acak Kelompok yang terdiri 2 faktor, yaitu varietas ubi jalar dan tingkat defoliasi. Varietas ubi jlara terdiri dari 3 jenis yaitu V1 = varietas Jago; V2 = varietas Beta dan V3 = varietas Antin. Tingkat defoliasi dengan 4 taraf yaitu D0 = tanpa defoliasi; D1 = defoliasi menyisakan 1 sulur; D2 = defoliasi menyisakan 2 sulur dan D4 = defoliasi menyisakan 3 sulur. Petak percobaan berukuran 1 x 1,4 m dengan jarak pusat ke pusat (pkp) 30 cm dan jarak dalam baris. Total kombinasi perlakuan adalah 4 x 3 = 12 perlakuan. Tiap perlakuan diulang 3 kali sehingga terdapat 3 x 12 = 36 petak percobaan. Peubah dan parameter yang diamati adalah komponen pertumbuhan meliputi jumlah daun, luas daun, panjang tanaman dan intersepsi cahaya. Komponen hasil meliputi panjang umbi, jumlah umbi, berat umbi dan kadar pati. Setiap petak pengamatan diambil 5 sampel tanaman. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5% untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Apabila hasilnya nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5% untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa vaietas ubi jalar tidak berpengaruh terhadap komponen hasil tetapi berpengaruh terhadap parameter jumlah daun; panjang daun, luas daun dan intersepsi cahaya. Tingkat defoliasi memberikan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi ubi jalar meliputi parameter jumlah daun, panjang daun, intersepsi cahaya, berat umbi dan kadar pati umbi jalar. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan varietas ubi jalar dengan tingkat defoliasi terhadap komponen pertumbuhan dan komponen hasil pada ubi jalar. Pada perbandingan perlakuan menunjukkan bahwa perlakuan tingkat defoliasi dengan menyisakan 2 sulur memiliki pertumbuhan dan hasil yag lebih banyak diantara perlakuan defoliasi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian Disaran untuk perlu dilakukan penelitian tentang penentuan waktu defoliasi yang tepat sehingga dapat meningkatkan hasil panen.