Pengembangan Ekonomi Kreatif Batik Banyuwangi (Studi Pada Kabupaten Banyuwangi)

Main Author: Nabila, RericiaIvara
Format: Thesis NonPeerReviewed Book
Bahasa: eng
Terbitan: , 2016
Subjects:
Online Access: http://repository.ub.ac.id/119036/1/Rericia_Ivara_N.-125030606111001-Perencanaan_Pembangunan.pdf
http://repository.ub.ac.id/119036/
Daftar Isi:
  • Penelitian tentang pengembangan ekonomi kreatif batik Banyuwangi ini dilatar belakangi pada potensi industri batik di Kabupaten Banyuwangi yang semakin berkembang setiap tahunnya. Pada tahun 2016, mencapai 28 IKM (Industri Kecil Menengah) dan terdapat 3 sentra industri batik. Pada proses pengembangan ekonomi kreatif batik Banyuwangi, terdapat beberapa aktor yang berperan aktif yaitu pemerintah, cendekiawan, dan bisnis atau sering disebut triple helix. Pengembangan tersebut masih memiliki beberapa permasalahanpermasalahan seperti kurangnya tenaga kerja kreatif, rendahnya tingkat pendidikan, ketergantungan pengadaan bahan baku dengandaerah lain, dan keterbatasan modal. Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data model interaktif oleh Miles, Huberman, dan Saldana. Peneliti menggunakan model interaktif ini dikarenakan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini sesuai dengan model analisis data milik Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil dari penelitian ini, terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan dalam mengembangakan industri batik yang ada di Banyuwangi seperti melakukan pelatihan, pemberi bantuan, hingga promosi yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Banyuwangi dan pelaku industri batik. Tetapi, dalam pelaksanaan pengembangan masih kurangnya apresiasi dan sadar lingkungan dalam penggunaan bahan baku alam pada proses pembuatan batik. Adanya keterbatasan informasi maupun akses untuk mendapatkan modal juga menjadi kendala dalam pengembangan ekonomi kreatif. Selain itu, masih rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh pelaku maupun tenaga kerja industri batik, dan tenaga kerja kreatif yang tidak merata. Serta, ketergantungan pelaku industri batik dalam pengadaan bahan baku dengan daerah lain seperti Jogjakarta, Solo, dan Bali. Saran yang dapat direkomendasikan antara lain, untuk melakukan pengembangan lebih lanjut dalam meningkatkan apresiasi dan sadar lingkungan dalam penggunaan bahan baku alam, menciptakan skema dan lembaga pembiayaan yang dapat dijangkau oleh pelaku industri batik dengan persyaratan yang mudah dan ringan, menyediakan koperasii khusus persediaan bahan baku industri, serta lebih aktif lagi dalam melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan untuk meningkatkan orang kreatif dan teknologi yang terbarukan.