Speech Acts Analysis On TV Series: “Glee” Season 2.

Main Author: Azizah, MarAtul
Format: Thesis NonPeerReviewed Book
Bahasa: eng
Terbitan: , 2015
Subjects:
Online Access: http://repository.ub.ac.id/101944/1/cover.pdf
http://repository.ub.ac.id/101944/2/SPEECH_ACTS_ANALYSIS_ON_TV_SERIES_GLEE_SEASON_2.pdf
http://repository.ub.ac.id/101944/
Daftar Isi:
  • Tindak tutur dapat dipelajari di berbagai media, temasuk serial tv. Tindak tutur memiliki beberapa jenis. Diantaranya, tindak lokusi, tindak ilokusi dan tindak perlokusi. Tindak lokusi merupakan arti sebenarnya dari ucapan yang disampaikan. Sebaliknya, tindak lokusi bisa menjadi tindak ilokusi apabila tindak tersebut menyebabkan pendengar harus mengerti tentang maksud pembicara yang sebenarnya. Tindak perlokusi merupakan efek dari tindak ilokusi yang sedang terjadi. Namun, Searle (1969) mengungkapkan bahwa ada satu lagi jenis tindak tutur yang juga penting, yaitu tindak proposisional. Tindak proposisional merupakan tindak merujuk dan memprediksi. Untuk tujuan akademis, penulis berminat untuk mempelajari fenomena tindak tutur melalui serial tv. Dalam studi ini, ada tiga rumusan masalah yang harus dipecahkan yaitu 1) Apa saja tindak proposisional yang ditemukan dalam ujaran di episode terpilih “Glee” musim ke-2? 2) Apa saja tindak ilokusi yang ditemukan dalam ujaran di episode terpilih “Glee” musim ke-2? 1) Apa saja tindak perlokusi yang ditemukan dalam ujaran di episode terpilih “Glee” musim ke-2? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk analisis isi. Analis isi digunakan untuk menganalisa ujaran yang dihasilkan oleh empat pemeran utama “Glee”. Ujaran diambil dari empat episode “Glee”. Penulis menemukan 198 tindak proposisional dari 207 ujaran. Tidak semua ujaran merupakan tindak proposisional dikarenakan ada tindak memprediksi yang berdiri sendiri. Menurut Searle (1969), tindak memprediksi tanpa tindak merujuk bukan tindak tutur yang utuh. Di samping itu, pada tindak ilokusi, representatif memiliki ujaran yang paling banyak dengan 82 ujaran. kategori yang paling sedikit digunakan adalah komisif. Penulis hanya menemukan 23 komisif. Tindak perlokusi muncul di sebagian besar ujaran. Hanya 6 ujaran yang tidak memiliki tindak perlokusi. Penulis juga menyarankan kepada peneliti untuk menemukan jenis tindak ilokusi yang tidak ditemukan di studi ini.