Dampak penurunan harga karet terhadap alokasi tenaga kerja dan penggunaan pupuk di Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan

Main Author: Evi Herleni
Format: Book
Bahasa: ind
Terbitan: Fak. Pertanian , 2016
Subjects:
Online Access: http://digilib.unsri.ac.id//index.php?p=show_detail&id=8887
http://digilib.unsri.ac.id//lib/phpthumb/phpThumb.php?src=../../images/docs/PERTANIAN.jpg.jpg
Daftar Isi:
  • Penelitian ini bertujuan 1) Menganalisis perbedaan penggunaan tenaga kerja keluarga sebelum dan setelah penurunan harga karet. 2) Menganalisis perbedaan penggunaan pupuk sebelum dan setelah penurunan harga karet. 3) Menganalisis perbedaan pendapatan usahatani karet sebelum dan setelah penurunan harga karet. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan dengan mengambil Kecamatan Payaraman, dan selanjutnya diambil Desa Payaraman dan Desa Lubuk Bandung sebagai sampel. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa lokasi ini mayoritas penduduknya melakukan usahatani karet sebagai sumber pencaharian yang utama selain itu petani karet di Desa Payaraman dan Desa Lubuk Bandung aktif mengikuti program kegiatan perkebunan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan harga jual karet sangat berdampak pada alokasi tenaga kerja, penggunaan pupuk, dan pendapatan. Alokasi tenaga kerja dalam keluarga petani karet dalam kegiatan penyadapan, pembersihan kebun dan pemupukan rata-rata per tahun di Desa Payaraman dan Desa Lubuk Bandung sebelum penurunan harga karet yaitu sebesar 486,4 HOK per tahun dan setelah penurunan harga karet yaitu sebesar 423,43 HOK per tahun. Jumlah penggunaan pupuk sebelum penurunan harga karet di Desa Payaraman dan Desa Lubuk Bandung yaitu sebesar 43.810 perluas garapan per tahun sedangkan setelah penurunan harga karet yaitu sebesar 15.550 per luas garapan per tahun. Rata-rata nilai penggunaan pupuk petani karet sebelum penurunan harga karet yaitu sebesar Rp. 1.801.650 per luas garapan per tahun dan setelah penurunan harga karet yaitu sebesar Rp. 702.600 per luas garapan per tahun. Pendapatan petani karet sebelum penurunan harga karet di Desa Payaraman dan Desa Lubuk Bandung yaitu sebesar Rp. 69.303.761 per luas garapan per tahun dan pendapatan setelah penurunan harga karet yaitu sebesar Rp. 21.300.341 per luas garapan per tahun. Dampak penurunan harga karet memaksa petani untuk tetap dapat bertahan pada situasi dan kondisi yang tidak menentu. Pendapatan yang menurun meyebabkan petani kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka ataupun untuk biaya produksi usahatanu karet mereka. Dengan adanya waktu luang yang dimiliki petani, petani bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari pekerjaan tambahan guna menambah pendapatan.
  • xvi, 62 hlm. : ilus.