Nefropati Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Yang Terkontrol dan Tidak Terkontrol: Kajian Terhadap Mikroalbumin Urin Sebagai Marker Nefropati Diabetes

Main Author: Nasution, Zunayroh
Other Authors: Hadisahputra, Sumadio, Dalimunthe, Darwin
Format: Masters application/pdf
Bahasa: ind
Terbitan: , 2018
Subjects:
MAU
Online Access: http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/2931
Daftar Isi:
  • 087014003
  • Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases characterized by hyperglycemia that was resulting from impaired insulin secretion, insulin action or both. Hyperglycemia that occurs in a long time associated with damage, dysfunction and failure of multiple organs, especially the eyes, kidneys, nerves, heart and blood vessels. One of the complications caused by diabetes mellitus (DM) is the occurrence of diabetic nephropathy that can lead to terminal renal failure. Monitoring the metabolic status of diabetic patients is important. The aim of this study was to determine the relationship of blood glucose control in diabetic nephropathy in type-2 diabetes with HbA1c as a parameter of glycemic control, long-suffering relationship with diabetic nephropathy DM. The method used to determine blood glucose control in all types of DM is glikat measuring hemoglobin (HbA1c). The study involved 31 people with type-2 DM, with did a few measurements and clinical examination and biochemical measurements such as height, weight and waist circumference, blood pressure Hg sphygmomanometer and stethoscope, HbA1c levels were measured by using HPLC method and microalbumin urine (MAU) was measured by using the PEG enhanced immunoturbidimetri Based on study, the numbers of female patient with type-2 DM is more than male patient (4:1). There are 15 peoples (48%) with controlled DM and 16 peoples (51%) with uncontrolled DM. There are 8 persons as the longest time patient of DM approximately 7-12 years (53%) in controlled DM group and 5 persons (31.25%) in uncontrolled DM group. In controlled DM group was found about 13 persons (86.67%) with normal condition and 1 person (6.67%) with microalbuminuria and 1 person macroalbuminuria condition, but in uncontrolled DM group there were 7 persons (43.75%) with normal condition, 6 persons (37.50%) with microalbuminuria and 3 persons (18.75%) with macroalbuminuria. The data analysis was done by descriptive method with univariate analysis. Based on the statistical test between control diabetes with diabetic nephropathy obtained p = 0.001, indicating that the more poorly controlled glucose levels in the blood, the greater the risk for experiencing diabetic nephropathy, is supported by a statistical test to see abnormal microalbuminuria with risk estimation MAU Odds Ratio = 8.357 which suggests that poorly controlled diabetes have a risk of elevated levels of MAU of 8.4 times compared with a controlled DM. Between long suffering with diabetic nephropathy DM obtained p = 0.681, this means there is no connection between the old mendrita DM with diabetic nephropathy.
  • Diabetes melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang dihasilkan dari gangguan sekresi insulin, aksi insulin atau keduanya. Hiperglikemia yang terjadi dalam jangka waktu yang lama berkaitan dengan kerusakan, disfungsi dan kegagalan beberapa organ, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah. Salah satu penyulit yang ditimbulkan oleh diabetes melitus (DM) adalah terjadinya nefropati diabetik yang dapat menyebabkan gagal ginjal terminal. Pemantauan status metabolik pasien DM merupakan hal yang penting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kontrol glukosa darah dengan nefropati diabetik pada DM tipe-2 dengan HbA1c sebagai parameter kontrol glukosa darah, hubungan lama menderita DM dengan nefropati diabetik. Metode yang digunakan untuk menentukan pengendalian glukosa darah pada semua tipe DM adalah pengukuran glikat hemoglobin (HbA1c). Penelitian ini melibatkan 31 orang penderita DM tipe-2, dengan melakukan beberapa pengukuran dan pemeriksaan secara klinis dan biokimia diantaranya pengukuran tinggi badan, berat badan dan lingkar pinggang, tekanan darah dengan sphygmomanometer Hg dan stetoskop, kadar HbA1c diukur menggunakan metode HPLC dan Mikroalbumin urin (MAU) diukur menggunakan metode PEG enhanced immunoturbidimetri. Penderita yang mengalami DM tpe-2 pada penelitian ini dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak dibanding yang berjenis kelamin laki-laki (4:1). Sebanyak 15 orang (48%) penderita DM terkontrol dan 16 orang (51%) penderita DM tidak terkontrol. Penderita DM terlama yang dialami adalah selama 7-12 tahun yaitu sebanyak 8 orang (53%) pada kelompok DM terkontrol dan 5 orang (31,25%) pada golongan DM tidak terkontrol. Pada kelompok DM terkontrol ditemukan sebanyak 13 orang (86,67%) normal dan 1 orang (6,67%) menunjukkan kondisi mikoalbuminuria dan 1 orang menunjukkan makroalbuminuria, sedangkan pada penderita DM tidak terkontrol sebanyak 7 orang (43,75%) menunjukkan normal, 6 orang (37,50%) menunjukkan mikroalbuminuria dan 3 orang (18,75%) menunjukkan makroalbuminuria. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan metode analisis univariat. Berdasarkan uji statistik antara kontrol DM dengan nefropati diabetik didapatkan p = 0,001, ini menunjukkan bahwa semakin tidak terkontrol kadar glukosa di dalam darah maka semakin besar pula resiko untuk mengalami nefropati diabetik, ini didukung oleh uji statistik untuk melihat resiko estimasi abnormal mikroalbuminuria dengan Odds Ratio MAU = 8,357 yang menggambarkan bahwa DM tidak terkontrol memiliki risiko terjadinya peningkatan kadar MAU sebanyak 8,4 kali dibanding dengan DM yang terkontrol. Antara lama menderita DM dengan nefropati diabetik didapatkan p = 0,681, ini berarti tidak terdapat hubungan antara lama mendrita DM dengan nefropati diabetik.