VariasiSuhuPemadatanAspalTerhadap Karakteristik Marshall Pada Lapisan Aspal Beton AC-WC dengan Bahan Tambah Styrofoam
Main Author: | Abdul Hermawan; Mahasiswa |
---|---|
Format: | PeerReviewed eJournal |
Bahasa: | ind |
Terbitan: |
SKRIPSI Jurusan Teknik Sipil - Fakultas Teknik UM
, 2018
|
Online Access: |
http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/TS/article/view/72812 |
Daftar Isi:
- ABSTRAK Asphalt Concrete Wearing Course(AC-WC) merupakan lapis perkerasan permukaan yang berfungsi sebagai lapis perata dari lapis aspal beton (laston) yang berada pada bagian paling atas. Lapisan AC-WC sering menerima gesekan dan tekanan besar yang dihasilkan oleh interaksi antara arus lalu lintas dan aspal. Salah satu faktor yang sering terjadi yang dapat mempengaruhi kualitas dan kinerja aspal beton adalah perubahan suhu ketika proses pemadatan. Proses pelaksanaan suhu pemadatan di lapangan sering tidak tercapai suhu yang diinginkan dikarenakan beberapa faktor seperti jauhnya lokasi AMP, pengangkutan campuran aspal beton tidak menggunakan terpal, dan pengaruh cuaca. Akibat dari suhu pemadatan yang tidak sesuai, lapisan beton aspal cepat mengalami kerusakan berupa keretakan dan bergelombang sebelum umur rencana tercapai. Dalam upaya meningkatkan kinerja aspal beton tersebut, perlu dilakukan dengan menambahkan bahan tambah ke dalam campuran aspal, salah satunya dengan styrofoam dikarenakan styrofoam memiliki sifat yang termoplastis, yaitu menjadi lunak jika dipanaskan dan mengeras kembali setelah dingin. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) karakteristikbahan penyusun aspal beton AC-WC, (2) karakteristik campuranaspalbeton AC-WC denganbahan tambah styrofoam, (3) suhupemadatan optimum yang terjadi pada campuran ditinjau dari parameter marshall. Pemeriksaan karakteristik bahan penyusun aspal beton AC-WC dilakukan untuk pembuatan benda uji Kadar Aspal Optimum (KAO) dengan variasikadaraspal 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7%. Kemudian dibuat benda uji KAO dengan variasi kadar styrofoam6%, 8%, 10%, 12%, dan14%. Pencampuranstyrofoam untuk pembuatan benda uji menggunakan metode kering. Selanjutnya dibuat benda uji dengan variasi suhu pemadatan 115oC, 130oC, 145oC, 160oC, dan 175oC. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Bahan penyusun yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi spesifikasi Bina Marga 2010. (2) Nilaistabilitas, MQ, VMA, dan VFA cenderung meningkat seiring dengan peningkatan kadar styrofoam, sebaliknya nilai flow dan VIM cenderung menurun. Kadar styrofoam optimum adalah 12% dengan nilai stabilitas, flow, VIM, VMA, VFA dan MQ memenuhi spesifikasi dari Direktorat Jendral Bina Marga 2010. (3) Suhu pemadatan optimum dengan penambahan kadar styrofoam optimum adalah 152,5oC. Nilai stabilitas meningkat sampai titik maksimum kemudian mengalami penurunan. Suhu pemadatan yang tinggi juga dapat meningkatkan nilai flow, MQ, serta VFA. Sebaliknya nilai VIM dan VMA menurun seiring dengan peningkatan suhu pemadatan.