Daftar Isi:
  • PT. X merupakan sebuah perusahaan pembangkit listrik di Indonesia, dimana dalam proses produksinya menggunakan mesin turbin dan generator yang menimbulkan kebisingan. Sehingga kondisi tersebut mampu menimbulkan peningkatan nilai ambang dengar bagi tenaga kerja yang terpapar oleh kebisingan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kuat hubungan antara kebisingan terhadap nilai ambang dengar di lingkungan PT. X. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik. Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang. Pengambilan data dengan menggunakan pengukuran secara langsung. Semua data yang diperoleh dianalisis dengan uji statistik Pearson Correlation dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata umur tenaga kerja yaitu 20 tahun (39,9%), dengan masa kerja paling banyak adalah 1 tahun (56,7%), Pekerja yang memiliki riwayat penyakit yang dapat mempengaruhi kondisi pengukuran nilai ambang dengar sebesar 13 orang tenaga kerja, dan 18 (60%) orang tenaga kerja sedang memakai obat ototoksik. Sebesar 10 orang tenaga kerja terpapar pada kebisingan 95,6 dB. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan antara kebisingan (r = 0,536), umur (r= 0,590), dan masa kerja (r= 0,596) terhadap nilai ambang dengar telinga kanan. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan antara kebisingan (r= 0,410), umur(r= 0,671), dan masa kerja (r= 0,628) terhadap nilai ambang dengar telinga kiri. Rekomendasi yang diberikan, perusahaan mulai meningkatkan kebiasaan pemakaian APD kebisingan agar dapat mengurangi risiko kesehatan pada tenaga kerja yang bekerja di tempat yang terpapar kebisingan.