Perbandingan sensitivitas dan spesifisitas quickstripe tm chlamydia ag dengan amplicor polymerase chain reaction untuk deteksi chlamdia trachomatis pada endoserviks wanita penjaja seks di panti sosial karya wanita Jakarta
Format: | Masters Bachelors |
---|---|
Terbitan: |
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
, 2006
|
Subjects: | |
Online Access: |
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/95305-Perbandingan-Full Text (T 18009).pdf |
Daftar Isi:
- Infeksi Chlamydia trachomatis (CT) genital merupakan penyebab infeksi menular seksual (IMS) terbanyak baik di negara industri, maupun di negara berkembang. Prevalensi infeksi ini bervariasi bergantung pada faktor risiko, kelompok populasi yang diteliti, dan metode pemeriksaan yang digunakan. Penelitian meta-analisis di tahun 2005 melaporkan bahwa prevalensi infeksi CT berkisar antara 3,3% hingga 21,5%. Prevalensi infeksi CT pada wanita risiko tinggi meningkat 8 kali lipat dibandingkan dengan wanita risiko rendah. Penelitian tahun 2001 di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Mulya Jaya mendapatkan angka kejadian infeksi CT adalab 31,1% dengan metode probe DNA PACE 2® dan 27,8% dengan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) Chlamydiazime®. Data tahun 2004 hingga 2005 di PSKW Mulya Jaya berdasarkan peningkatan jumlah sel polimorfonuklear (PMN) tanpa ditemukan penyebab spesifik dengan pewarnaan gram, menunjukkan bahwa insiden infeksi genital nonspesifik sebesar 11,1%. Morbiditas dan komplikasi infeksi CT mempengaruhi kesehatan reproduksi wanita akan menimbulkan masalah ekonomi dan psikososial yang serius. Penyakit ini pada wanita dapat menimbulkan gejala uretritis, servisitis, dan penyakit radang panggul (PRP). Selanjutnya dapat terjadi nyeri panggul kronis, kehamilan ektopik, serta infertilitas. Di Amerika Serikat diperkirakan terdapat lebih dari 4 juta kasus baru infeksi CT setiap tahun dan akibatnya 50.000 wanita mengalami infertilitas. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi CT dapat menderita konjungtivitis dan/atau pneumonia. Selain itu, infeksi CT juga meningkatkan risiko terkena infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan menderita kanker serviks. Umumnya infeksi CT bersifat asimtomatik pada 75-85% wanita dan pada 50-90% pria sehingga penderita tidak mencari pengobatan. Individu terinfeksi CT yang asimtomatik merupakan sumber penularan di masyarakat, khususnya wanita penjaja seks (WPS) yang berganti-ganti pasangan seksual. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan uji diagnostik infeksi CT terhadap semua wanita seksual aktif usia <20 tahun; wanita baik usia 20-24 tahun, maupun usia >24 tahun dengan salah satu faktor risiko sebagai berikut: tidak selalu menggunakan kondom, atau mempunyai pasangan seks baru, atau memiliki pasangan seks > 1selama 3 bulan terakhir; serta wanita hamil. Skrining CT pada kelompok wanita risiko tinggi efektif menurunkan insiden infeksi CT dan risiko terjadinya sekuele jangka panjang. Dengan demikian, diperlukan uji diagnostik untuk deteksi infeksi CT yang cepat dan sederhana sehingga dapat diberikan pengobatan yang tepat serta efektif pada kunjungan pertama guna mencegah transmisi dan komplikasi penyakit lebih lanjut. Baku emas uji diagnostik infeksi CT adalah kultur jaringan, namun diperlukan banyak waktu, keahlian teknik, dan fasilitas laboratorium khusus. Dengan berkembangnya teknik amplifikasi asam nukleat, metode kultur semakin jarang digunakan. Salah satu uji amplifikasi asam nukleat adalah menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) yang lebih sensitif karena dapat mendeteksi 1-10 badan elementer dan spesifisitasnya sebanding dengan kultur. Sensitivitas dan spesifisitas metode kultur sebesar 65% dan 100% dibandingkan dengan metode Amplicor® PCR sebesar 91,7% dan 99,7%. Dengan demikian, uji amplifikasi asam nukleat, khususnya Amplicor® PCR, telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) menggantikan metode kultur sebagai baku emas uji diagnostik infeksi CT. Keterbatasan PCR dibandingkan dengan kultur adalah tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil pengobatan dan resistensi antibiotika, serta tidak reprodusibilitas. Di samping itu, uji ini juga mendeteksi CT yang mati hingga 3 minggu setelah pemberian antibiotika. Teknik PCR belum digunakan untuk uji diagnostik infeksi CT secara luas di Indonesia karena biaya mahal.