PERSEPSI ORANGTUA TERHADAP PERNIKAHAN DINI PADA REMAJA DI DESA ALAMENDAH KECAMATAN RANCABALI KABUPATEN BANDUNG

Main Author: Wadjaudje, Nona Intan Permatasari
Format: bachelorthesis doc-type Bachelors
Bahasa: ind
Terbitan: , 2017
Online Access: http://repository.unpad.ac.id/frontdoor/index/index/docId/35356
Daftar Isi:
  • Tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Bandung dilakukan oleh 60.000 pasangan dibawah usia 18 tahun, tercatat Desa Alamendah pada tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi 117 pasangan dari 53 pasang pada tahun 2015. Orang tua merupakan faktor yang berpengaruh paling besar pada kejadian menikah dini khususnya didaerah pedesaan. Dimana orang tua masih menganggap anak perempuan harus segera menikah dan melestarikan budaya dilingkungan seperti menjodohkan anak dengan kerabat dekatnya. Orang tua adalah kunci bagi anak untuk mendapatkan informasi yang benar. Untuk itu perlu ada penelitian mengenai persepsi orangtua pada pernikahan dini. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana persepsi orang tua terhadap pernikahan dini di Desa Alamendah, dan dilihat dari domain persepsi mengenai kerentanan, keseriusan, manfaat dan hambatan. Metode pada penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Instrumen yang digunakan memodifikasi dari teori Health Belief Model dan mengacu pada kuesioner keluarga survei indikator kinerja program KKBPK 2016. Teknik pengambilan sampel menggunakan Proporsionate Cluster Random Sampling pada orang tua yang memiliki remaja perempuan usia dibawah 21 tahun sebanyak 144 sampel. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan persepsi orang tua pada pernikahan dini di Desa Alamendah pada kategori mendukung sebanyak 88 responden (61,11%). Dilihat dari setiap domain persepsi yang termasuk kategori mendukung adalah persepsi kerentanan (68,75%), keseriusan (68,06%), hambatan (61,11%) dan kategori tidak mendukung yaitu pada persepsi manfaat (57,64%). Persepsi orang tua yang mendukung pernikahan dini dimungkinkan karena budaya sehingga perilaku orang tua memberikan risiko tinggi pada kematian ibu. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan program bagi pemerintah maupun tim kesehatan untuk mengubah persepsi orang tua, dengan cara menambahkan konten edukasi mengenai bahaya budaya yang negatif pada kesehatan reproduksi anak