Tata kelola pariwisata-bencana berbasis collaborative governance konsep, analisis dan pemodelan

Wacana tentang pariwisata-bencana (disaster tourism) mengundang kontraversi tersendiri, banyak kalangan merasa keberatan dan mempunyai persepsi negatif terhadap wacana tersebut. Wacana ini terkesan tidak etis karena seolah-olah wisata-bencana itu identik dengan bersenang-senang diatas penderitaan or...

Full description

Format: Book
Bahasa: ind
Terbitan: Yogyakarta : Explore , 2018
Subjects:
LEADER 02837cam a2200385 a 4500
001 INLIS000000000877623
005 20200617143002.0
006 aa###g######000#0#
007 ta
008 190401t2018####yoia###g######000#0#ind##
020 # # |a 978-979-19417-4-7 
035 # # |a 0010-0119006914 
040 # # |a JKPNPNA  |b ind  |e rda 
082 0 4 |a 338.479 1  |b [23] 
084 # # |a 338.479 1 MUC t 
100 0 # |a Muchamad Zaenuri  |e pengarang 
245 1 0 |a Tata kelola pariwisata-bencana berbasis collaborative governance :  |b konsep, analisis dan pemodelan /  |c oleh Dr. Muchamad Zaenuri, M.Si. 
264 # 1 |a Yogyakarta :  |b Explore,  |c 2018 
264 # 4 |c © 2018 
300 # # |a xxiv, 404 halaman :  |b ilustrasi ;  |c 24 cm 
336 # # |a teks  |2 rdacontent 
337 # # |a tanpa perantara  |2 rdamedia 
338 # # |a volume  |2 rdacarrier 
504 # # |a Bibliografi : 383-402 
520 # # |a Wacana tentang pariwisata-bencana (disaster tourism) mengundang kontraversi tersendiri, banyak kalangan merasa keberatan dan mempunyai persepsi negatif terhadap wacana tersebut. Wacana ini terkesan tidak etis karena seolah-olah wisata-bencana itu identik dengan bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Akan tetapi kalau dilihat dari kondisi riil yang ada di Indonesia, sebagian besar obyek dan daya tarik wisata (ODTW) rentan terhadap bencana, dan tidak bisa dipungkiri bahwa pasca terjadinya bencana membawa keunikan tersendiri bagi ODTW sehingga menarik bagi wisatawan untuk mengunjunginya. Peristiwa pasca erupsi Merapi menjadi ?cerita? yang menarik untuk disampaikan, karena begitu dinyatakan aman oleh BMKG, berbodong-bondong para wisatawan mengunjungi kawasan lereng Merapi, dalam hal ini pemerintah maupun masyarakat setempat tidak siap untuk menerima dan memberikan pelayanan kepada wisatawan. Dari pengalaman tersebut patut dicari solusinya dengan menggunakan pendekatan yang melibatkan pemerintah, masyarakat dan pihak swasta. Dari perspektif Administrasi Publik dapat dikemukakan dengan pendekatan tata kelola yang bersifat kolaboratif (collaborative governance). Pendekatan ini dibangun atas dasar visi bersama, partisipasi, jejaring dan kemitraan diantara pemerintah, masyarakat dan pihak swasta. Buku ini akan memberi nuansa yang berbeda terhadap pembahasan pariwisata-bencana, karena pendekatan yang dipakai merupakan paradigma mutakhir dalam administrasi publik, sehingga buku ini bisa dijadikan sebagai referensi bagi mahasiswa dan praktisi karena didalamnya mencakup konsep, analisis dan aplikasi collaborative governance pada tata kelola pariwisata-bencana graha ilmu 
650 # 4 |a Pariwisata 
850 # # |a JKPNPNA 
990 # # |a 201900103018788 
990 # # |a 201900103018787 
990 # # |a 201900103018779 
990 # # |a 201900103018789 
990 # # |a 201900103115873 
990 # # |a 201900103115871 
990 # # |a 201900103115870 
990 # # |a 201900103115869