Summary: |
Dalam puisi-puisinya, Bernando J. Sujibto seperti menyajikan kepada kita potret subjektivitas yang terkoyak: tubuh yang terkoyak oleh situs, situs yang membara oleh tubuh (seperti Taksim dan para demonstrannya), aku-lirik yang terkoyak oleh kata-kata dan ingatan, ingatan yang terkoyak oleh tubuh dan situs, dan seterusnya. ?Tubuh ini adalah bastar di sebuah altar yang dingin?. Namun, ?jalan-jalan seperti berlepasan/menuju tubuh yang siap dilahirkan/menuliskan seribu peta keberangkatan?. Terkoyak, subjektivitas itu seperti hancur dan lindas tiap saat, namun siap lahir tiap saat pula, oleh kebaruan situs dan kata-kata yang dihadirkan pada setiap perjalanan. Buku antologi puisi ini memiliki energi yang sangat kuat dalam memungut zamrud masa silam dan menggapai-gapai aneka manikam yang dikandung masa depan.
|